readitanreap.blogspot.com adalah blog yang memberikan informasi mengenai berbagai macam penyakit kanker dari mulai gejala penyakit kanker, penyebab kanker dan cara penanganan penyakit kanker.

Kamis, 05 April 2018

Gejala Kanker Kolorektal Penyebab dan Faktor Resiko

Gejala Kanker Kolorektal Penyebab dan Faktor Resiko - Kanker kolorektal merupakan jenis kanker yang tumbuh pada usus besar (kolon) atau rektum. Kanker ini pada umumnya bermula dari polip yang tumbuh di sepanjang dinding permukaan dalam usus besar serta rektum.

Polip atau disebut juga sebagai jaringan yang tumbuh ini biasanya jinak dan tidak menyebabkan gangguan. Meski demikian, ada juga jaringan polip yang berpotensi menjadi ganas, terutama yang sudah ada pada usus dan rektum selama 5 hingga 15 tahun.

Gejala Kanker Kolorektal

Gejala yang biasanya muncul dari kanker kolorektal biasanya akan dirasakan oleh pasien ketika kanker sudah berkembang cukup jauh. Jenis gejalanya juga tergantung pada lokasi tumbuhnya kanker. Beberapa tanda dan gejala yang umumnya terjadi meliputi:
  • Diare atau juga konstipasi.
  • Proses buang air besar (BAB) yang terasa tidak tuntas dan seperti ada sisa yang mengganggu.
  • Darah pada tinja, biasanya hanya sedikit.
  • Tinja yang disertai lendir.
  • Mual-mual yang kadang disertai muntah.
  • Muntah.
  • Sakit pada perut.
  • Lemas dan lelah.
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas secara signifikan.
Jika Anda memang mengalami gejala-gejala tersebut, segera periksakan diri ke dokter. Pada tahap awal, gejala kanker kolorektal seringkali tidaklah terasa. Karena itu, pemeriksaan secara rutin patut dilakukan untuk berjaga-jaga.

Penyebab dan Faktor Risiko Kanker Kolorektal

Tumbuhnya sel-sel yang terjadi secara abnormal merupakan sumber di balik semua kanker, termasuk kanker kolorektal. Namun hingga saat ini, penyebab perkembangbiakan sel-sel abnormal yang tidak terkendali itu belum diketahui secara pasti. Para pakar sejauh ini hanya menduga terdapat beberapa faktor yang bisa memicu pertumbuhan kanker. Faktor-faktor risiko tersebut diantaranya yaitu:
  • Pengaruh usia. Risiko kanker kolorektal akan meningkat seiring bertambahnya usia. Kanker ini diperkirakan diidap oleh 9 di antara 10 orang yang berusia 50 tahun atau lebih.
  • Faktor keturunan. Orang dengan anggota keluarga yang mengidap kanker atau polip kolorektal memiliki risiko lebih tinggi untuk mengidap kanker kolorektal.
  • Pengaruh gaya hidup, seperti kurang olahraga, kekurangan asupan serat, konsumsi minuman keras, kelebihan berat badan, obesitas, atau merokok.
  • Mengidap penyakit Crohn  dan kolitis ulseratif lebih dari 9 tahun.

Diagnosis Kanker Kolorektal
Pemeriksaan kondisi fisik (biasanya melalui pengecekan rektum) dan menanyakan gejala merupakan langkah awal dalam diagnosis kanker kolorektal. Riwayat kesehatan pasien dan keluarga juga akan menjadi pertimbangan.

Jika diagnosis awal kurang jelas, dokter juga akan menganjurkan sejumlah pemeriksaan guna memastikan diagnosis. Beberapa di antaranya adalah:
Kolonoskopi, yaitu berupa evaluasi kondisi bagian dalam rektum dan usus besar. Prosedur ini dapat dilakukan dengan cara memasukkan slang panjang yang fleksibel dan disertai dengan lampu pada ujungnya melalui anus. Pemeriksaan ini bisa juga disertai pemeriksaan flexible sigmoideoscopy yang menggunakan slang yang lebih pendek, CT colonography menggunakan sinar X untuk mengambil gambar serial yang detail dari dinding usus, dan barium enema yang alirannya dapat dipantau dengan sinar X.
Biopsi atau pengambilan sampel jaringan pada sel-sel abnormal agar dapat diperiksa di laboratorium. Biopsi dilakukan untuk memastikan diagnosis.
USG, rontgen, CT, dan MRI scan untuk melihat seberapa jauh penyebaran kanker dan menentukan tahap perkembangan kanker (staging).
Selain untuk di diagnosis, metode-metode pemeriksaan tersebut juga dilakukan untuk mengetahui perkembangan serta tingkat penyebaran dari kanker.

Langkah Pengobatan Kanker Kolorektal
Diagnosis dan pengobatan kanker kolorektal sedini mungkin akan meningkatkan kemungkinan sembuh bagi penderita. Namun, jika kanker sudah berkembang pada stadium lanjut, langkah pengobatan akan dilakukan untuk mencegah penyebaran sekaligus meringankan gejala-gejala yang nantinya akan dialami oleh pasien.

Sama halnya seperti kanker-kanker lain, pengobatan kanker kolorektal biasanya meliputi operasi, kemoterapi, dan juga radioterapi. Kombinasi ketiga langkah pengobatan tersebut tergantung pada berbagai faktor, seperti kondisi kesehatan dari pasien serta tingkat perkembangan dan penyebaran kanker.

Prosedur operasi
Operasi merupakan penanganan utama untuk menangani kanker kolorektal. Biasanya bagian usus atau rektum yang ditumbuhi kanker akan dibuang dan masing-masing ujung saluran pencernaan dijahit menjadi satu.

Pada penderita kanker rektum, biasanya tidak banyak bagian sehat yang tersisa setelah dipotong. Maka penyambung kedua ujung saluran cerna akan sangat sulit dilakukan karena jaringan untuk disambung begitu minim. Kasus-kasus ini biasa diselesaikan dengan cara kolostomi. Kolostomi adalah operasi pembuatan lubang baru pada dinding perut yang kemudian disambung ke ujung usus yang telah dipotong, hal ini berguna mengeluarkan tinja secara langsung melalui dinding perut dan di tampung dalam sebuah kantong yang ditempelkan ke dinding perut luar.

Prosedur ini terbagi ke dalam dua jenis, yaitu sementara dan permanen. Kolostomi sementara dilakukan apabila kanker sudah menyebar keluar dinding saluran cerna dan organ atau bagian lain juga perlu dibersihkan dari sel-sel kanker. Untuk menunggu pemulihan organ atau bagian lain pasca tindakan, maka kolostomi ini dibuat sementara dan nantinya akan ditutup kembali. Sedangkan kolostomi permanen umumnya dianjurkan bagi pasien yang memang telah menjalani pengangkatan rektum secara keseluruhan.

Kemoterapi dan Radioterapi
Tujuan dari dilakukannya kemoterapi dan radioterapi adalah untuk membunuh sel-sel kanker atau menghentikan perkembangbiakannya. Kemoterapi semakin banyak digunakan untuk menangani kanker usus. Sementara radioterapi sebagian besar dijalani oleh pengidap kanker kolorektal yang tumbuh di sekitar rektum.

Keduanya juga digunakan sebagai terapi ketika sebelum maupun setelah dilakukannya operasi. Bila dilakukan setelah operasi, maka bertujuan untuk membunuh sisa sel-sel kanker yang telah menyebar dari lokasi utama kanker. Sedangkan kemoterapi atau radioterapi sebelum operasi berguna untuk menyusutkan tumor agar lebih mudah diangkat.

Gejala Kanker Kolorektal Penyebab dan Faktor Resiko Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Sarah Veronica

0 komentar:

Posting Komentar